Wonocolo, Laboratorium Geologi Minyak Tertua di Indonesia: Dari Penemuan Belanda hingga Geliat Tambang Rakyat
Desa Wonocolo di Kabupaten Bojonegoro, yang dikenal sebagai salah satu lokasi penemuan minyak tertua di Indonesia, kini menjadi daya tarik unik. Kawasan ini bukan hanya saksi bisu sejarah eksploitasi minyak sejak era kolonial Belanda, tetapi juga berfungsi sebagai laboratorium geologi alam yang menyajikan secara lengkap lima aspek penting dari Sistem Petroleum (Petroleum System).
Laboratorium
Geologi Alam yang Komplet
Keistimewaan
Wonocolo terletak pada keterbukaan formasi geologinya. Menurut Saiful, salah
satu pengurus di lokasi tersebut, wisatawan dan peneliti dapat melihat langsung
dan bahkan mempraktikkan penambangan manual tradisional. Bagi kalangan
akademisi, Wonocolo menawarkan materi studi yang tak tertandingi karena seluruh
singkapan batuan yang mendukung sistem petroleum terekspos jelas.
Sistem Petroleum,
yang merupakan kunci ditemukannya minyak dan gas bumi di bawah tanah, mencakup
lima aspek:
1.
Batuan
Induk (Source Rock): Tempat sisa-sisa organisme purba dimasak menjadi minyak
dan gas akibat tekanan dan suhu tinggi.
2.
Batuan
Reservoir (Reservoir Rock): Batuan berpori (seperti batu pasir atau batu
gamping) tempat minyak dan gas tersimpan layaknya spons.
3.
Batuan
Tudung (Seal/Cap Rock): Lapisan batuan padat dan kedap air (seperti marl) yang
berfungsi mengunci minyak agar tidak lolos ke permukaan.
4.
Perangkap
(Trap): Struktur geologi yang menyebabkan minyak dan gas terakumulasi, dalam
hal ini berupa struktur lipatan Antiklin Kawengan yang terlihat jelas di
Wonocolo.
5.
Jalur
Migrasi (Migration Pathway): Celah-celah batuan yang menjadi jalur pergerakan
minyak dari Batuan Induk ke Batuan Reservoir dan terperangkap.
Di Wonocolo,
Batuan Formasi Wonocolo sendiri bertindak ganda sebagai batuan reservoir maupun
batuan penutup (seal), yang memungkinkan minyak terperangkap di bawahnya.
Fenomena rembesan minyak yang pertama kali ditemukan Belanda adalah bukti
adanya kebocoran alami pada lapisan penutup tersebut.
Jejak Sejarah dan
Struktur Geologi
Sejarah
perminyakan di Wonocolo sudah dimulai sejak tahun 1868 ketika rembesan minyak
pertama kali ditemukan. Eksploitasi secara resmi oleh Belanda baru dimulai pada
tahun 1894, menjadikannya salah satu yang tertua setelah Cepu (1893).
Fenomena geologi
utama di Wonocolo adalah struktur Antiklinoria Rembang, di mana Wonocolo berada
tepat di puncak salah satu puncaknya, yaitu Antiklin Wonocolo. Formasi ini
terbentuk sekitar 3 hingga 10 juta tahun yang lalu akibat pergerakan tektonik
dari selatan Jawa, yang menyebabkan lapisan sedimen yang awalnya rata terlipat
membentuk cembungan.
Minyak dan gas
yang terbentuk puluhan juta tahun yang lalu (sekitar 20–40 juta tahun) di
lapisan yang lebih dalam, seperti Formasi Ngerayong atau Kujung, bermigrasi dan
terperangkap di puncak antiklin ini, menjadikannya target pengeboran yang
paling mudah diakses di masa lalu.
Dinamika
Penambangan Rakyat dan Tantangan Saat Ini
Saat ini, sekitar
80% warga Desa Wonocolo masih menggantungkan hidupnya pada aktivitas
penambangan minyak tradisional yang dilakukan secara manual.
Masa keemasan
penambangan terjadi sekitar tahun 2010 hingga 2013, di mana satu sumur aktif
mampu memproduksi minyak mentah hingga 25.000 liter per hari. Namun, produksi
kini anjlok drastis, rata-rata hanya menghasilkan 200 hingga 5.000 liter per
hari per sumur, dengan kedalaman sumur mencapai 380 meter.
Pengelolaan
minyak hasil tambang rakyat saat ini diurus oleh Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), yang bertindak sebagai jembatan antara masyarakat dan Pertamina dalam
hal harga jual yang merujuk pada harga minyak dunia.
Dalam upaya
meningkatkan produksi di tengah penurunan hasil, para penambang seringkali
mencari investor untuk melakukan servis sumur, terutama untuk pendalaman.
Uniknya, di samping interpretasi geologi, penentuan titik pengeboran baru di
wilayah terbatas 10 hektare di puncak antiklin Wonocolo, masih diwarnai dengan
tradisi mistik dengan melibatkan orang pintar untuk mencari lokasi sumur.
Gas alam yang
dahulu keluar bersama minyak dari sumur sempat dimanfaatkan, di mana gas dari
sumur Pertamina disalurkan ke rumah-rumah warga untuk memasak.
Wonocolo kini
menawarkan paket wisata edukasi yang memungkinkan pengunjung melihat langsung
proses penambangan tradisional yang unik serta belajar geologi di
"laboratorium" alam tersebut.
Lengkapnya anda
bisa ikuti di Geocast (Geopark Podcast) : https://youtu.be/jERxXQyJfNs?si=ooXpT6hAUpeczlf_