Ancaman Biologis di Bengawan Solo: Eksplorasi Ngringinrejo Temukan Bunglon Invasif dan Sembilan Spesies Ikan Asing
NGRINGINREJO
– Sebuah tim eksplorasi biologi yang tergabung dalam program Jelajah Taman
Bumi mengungkap temuan mengejutkan terkait masuknya spesies asing invasif
di ekosistem Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini, yang dilakukan
secara mandiri oleh tim Jelajah Taman Bumi berbasis voluntourism, menyoroti
ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati lokal.
Selama
dua minggu pemetaan intensif, Aksan, seorang ahli biologi perikanan yang
memimpin tim, mencatat adanya indikasi kuat spesies reptil invasif. Ia menyebut
temuan bunglon berwarna cokelat yang dikenal warga lokal sebagai
"Londok" atau "Blungkon". Menurut Aksan, spesies ini
berasal dari daratan Asia Tenggara dan seharusnya tidak ditemukan di Indonesia.
Kehadiran bunglon invasif ini dikhawatirkan menjadi penyebab utama semakin
sulitnya menemukan bunglon surai hijau, spesies asli Ngringinrejo.
"Jika
kondisi ini terus berlanjut, kita berpotensi menghadapi kepunahan lokal untuk
spesies reptil asli di area ini," jelas Aksan.
Di
sektor perairan, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Dari sekitar 51
spesies ikan yang ditemukan di Bengawan Solo, Aksan mengonfirmasi adanya
sembilan spesies invasif. Keberadaan ikan-ikan asing ini, mulai dari Nila,
Mujair, hingga yang paling mengancam, Red Devil, sebagian besar merupakan hasil
dari introduksi manusia. Praktik penyebaran benih, termasuk bantuan dari dinas,
yang didominasi oleh ikan non-lokal seperti Nila dan Mujair, telah memperburuk
kondisi ekosistem perairan.
Selain
ancaman biologis, tim juga menemukan masalah lingkungan yang serius. Aksan dan
Mas Bence, Ketua Pokdarwis Ngringinrejo, menyoroti adanya limbah cair berwarna
yang diduga berasal dari sisa pengolahan tebu pabrik. Limbah ini diduga
berkontribusi pada fenomena "munggut" (ikan mati massal atau mabuk)
dan membuat ikan tangkapan terkadang mengeluarkan bau tidak sedap.
Lebih
lanjut, keberadaan Bendungan Gerak di Bengawan Solo yang tidak dilengkapi
dengan fishway (tangga ikan) secara efektif membatasi migrasi ikan, menyebabkan
penurunan keragaman genetik dan populasi ikan antara hulu dan hilir bendungan.
Mas Bence sendiri, yang merupakan mantan nelayan, membenarkan bahwa hasil
tangkapan di wilayah damuhan serak telah menurun drastis dalam beberapa tahun
terakhir.
Penelitian
ini menegaskan bahwa Ngringinrejo memiliki peran penting sebagai biosite, di
mana kesehatan flora dan fauna berfungsi sebagai parameter untuk menilai
kelestarian ekosistem. Oleh karena itu, tim Jelajah Taman Bumi menekankan
perlunya dokumentasi ilmiah yang akurat dan langkah-langkah mitigasi untuk
mengatasi ancaman biologis dan lingkungan yang telah teridentifikasi.
lengkapnya
saksikan di geocast (geopark podcast)
: https://youtu.be/gqsZ6hExsxE?si=SDSGj4XYhmEatY8I