Ancaman Biologis di Bengawan Solo: Eksplorasi Ngringinrejo Temukan Bunglon Invasif dan Sembilan Spesies Ikan Asing

  • Informasi Umum
  • 16-11-2025
  • 165 dilihat

NGRINGINREJO – Sebuah tim eksplorasi biologi yang tergabung dalam program Jelajah Taman Bumi  mengungkap temuan mengejutkan terkait masuknya spesies asing invasif di ekosistem Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini, yang dilakukan secara mandiri oleh tim Jelajah Taman Bumi berbasis voluntourism, menyoroti ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati lokal.

Selama dua minggu pemetaan intensif, Aksan, seorang ahli biologi perikanan yang memimpin tim, mencatat adanya indikasi kuat spesies reptil invasif. Ia menyebut temuan bunglon berwarna cokelat yang dikenal warga lokal sebagai "Londok" atau "Blungkon". Menurut Aksan, spesies ini berasal dari daratan Asia Tenggara dan seharusnya tidak ditemukan di Indonesia. Kehadiran bunglon invasif ini dikhawatirkan menjadi penyebab utama semakin sulitnya menemukan bunglon surai hijau, spesies asli Ngringinrejo.

"Jika kondisi ini terus berlanjut, kita berpotensi menghadapi kepunahan lokal untuk spesies reptil asli di area ini," jelas Aksan.

Di sektor perairan, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Dari sekitar 51 spesies ikan yang ditemukan di Bengawan Solo, Aksan mengonfirmasi adanya sembilan spesies invasif. Keberadaan ikan-ikan asing ini, mulai dari Nila, Mujair, hingga yang paling mengancam, Red Devil, sebagian besar merupakan hasil dari introduksi manusia. Praktik penyebaran benih, termasuk bantuan dari dinas, yang didominasi oleh ikan non-lokal seperti Nila dan Mujair, telah memperburuk kondisi ekosistem perairan.

Selain ancaman biologis, tim juga menemukan masalah lingkungan yang serius. Aksan dan Mas Bence, Ketua Pokdarwis Ngringinrejo, menyoroti adanya limbah cair berwarna yang diduga berasal dari sisa pengolahan tebu pabrik. Limbah ini diduga berkontribusi pada fenomena "munggut" (ikan mati massal atau mabuk) dan membuat ikan tangkapan terkadang mengeluarkan bau tidak sedap.

Lebih lanjut, keberadaan Bendungan Gerak di Bengawan Solo yang tidak dilengkapi dengan fishway (tangga ikan) secara efektif membatasi migrasi ikan, menyebabkan penurunan keragaman genetik dan populasi ikan antara hulu dan hilir bendungan. Mas Bence sendiri, yang merupakan mantan nelayan, membenarkan bahwa hasil tangkapan di wilayah damuhan serak telah menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Penelitian ini menegaskan bahwa Ngringinrejo memiliki peran penting sebagai biosite, di mana kesehatan flora dan fauna berfungsi sebagai parameter untuk menilai kelestarian ekosistem. Oleh karena itu, tim Jelajah Taman Bumi menekankan perlunya dokumentasi ilmiah yang akurat dan langkah-langkah mitigasi untuk mengatasi ancaman biologis dan lingkungan yang telah teridentifikasi.

 

lengkapnya saksikan di geocast (geopark podcast) : https://youtu.be/gqsZ6hExsxE?si=SDSGj4XYhmEatY8I

 

Aksesibilitas
Geopark Bojonegoro
Pembaca Teks

Tampilan