Strategi Konservasi Partisipatif: Menjaga Warisan Bumi Bojonegoro Menuju UNESCO Global Geopark

  • Informasi Umum
  • 05-01-2026
  • 106 dilihat

Strategi Konservasi Partisipatif: Menjaga Warisan Bumi Bojonegoro Menuju UNESCO Global Geopark

Bojonegoro – Langkah Bojonegoro menuju status UNESCO Global Geopark (UGGP) kini memasuki fase krusial. Dalam upaya memperkuat tata kelola kawasan, Yayasan Jelajah Taman Bumi resmi menjalin kemitraan dengan Badan Pengelola (BP) Geopark Bojonegoro. Kolaborasi ini membawa visi baru yang menitikberatkan pada satu aspek fundamental yang menjadi ruh dari sebuah Geopark: Konservasi Partisipatif.

Menutup Celah dalam Tata Kelola Geopark

Ketua Yayasan Jelajah Taman Bumi, Agni, menyampaikan bahwa konservasi adalah pondasi utama Geopark yang harus diperkuat. Berdasarkan pengamatan rutin di lapangan, ditemukan berbagai tantangan nyata yang mengancam keberlangsungan geosite. Ancaman tersebut meliputi aktivitas pertambangan batu dan pasir, hingga faktor pelapukan alami yang merusak struktur batuan penting.

Titik-titik geologi yang bernilai ilmu pengetahuan tinggi, seperti struktur antiklin, sinklin, dan berbagai singkapan batuan sedimen, saat ini masih banyak yang belum memiliki perimeter pengaman yang memadai. Selain itu, status lahan yang berada di bawah kewenangan pihak lain serta proyek strategis nasional seperti pembangunan Waduk Karangnongko menjadi dinamika tersendiri yang memerlukan solusi kebijakan yang tepat agar jejak arkeologi dan geologi tetap terlindungi.

Masyarakat Sebagai Subjek, Bukan Objek

Untuk menjawab tantangan tersebut, Jelajah Taman Bumi menawarkan konsep Asesmen Kerentanan Partisipatif. Gagasan ini bertujuan untuk mengubah posisi masyarakat di sekitar geosite dari sekadar penonton atau objek pembangunan menjadi subjek aktif yang ikut bertanggung jawab atas kelestarian lingkungannya.

Melalui pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) atau Pendekatan Penghidupan Lestari, proses konservasi akan memetakan lima modal utama: alam, sosial, fisik, manusia, dan finansial. Strategi ini memastikan bahwa pengembangan Geopark tidak hanya bicara soal menjaga batu (Geoheritage), tetapi juga tentang memastikan kepastian taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di atasnya (Livelihood).

Instrumen Dinamis: Early Warning System

Salah satu terobosan yang diusulkan adalah pembuatan profil keterancaman (vulnerability profile) untuk seluruh geosite yang ada di Bojonegoro. Instrumen ini dirancang untuk bersifat dinamis dan dapat diperbarui secara berkala melalui partisipasi lintas sektor, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil.

Data yang dihasilkan dari asesmen mandiri ini nantinya akan berfungsi sebagai:

  • Early Warning System (Sistem Peringatan Dini): Untuk mendeteksi secara cepat munculnya ancaman baru di sekitar kawasan lindung.

  • Instrumen Evaluatif: Mengukur sejauh mana kolaborasi konservasi memberikan dampak nyata di lapangan.

  • Skema Berbagi Peran: Menentukan pembagian tanggung jawab yang jelas antar stakeholder agar setiap pihak tahu apa yang harus dilakukan dalam menjaga kawasan.

Menuju Pariwisata Berkualitas (Ecotourism)

Ke depan, keberhasilan Geopark Bojonegoro tidak hanya dilihat dari kuantitas wisatawan, tetapi dari kualitas pengelolaan yang berkelanjutan. Fokus utamanya adalah menyelaraskan konsep ecotourism dengan geotourism. Hal ini bertujuan untuk menarik pasar wisatawan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan beriringan dengan upaya pelestarian.

"Geopark yang sukses di Bojonegoro adalah yang mampu menjaga warisan geologinya sekaligus mensejahterakan orang-orangnya," tegas Agni. Dengan data yang akurat, komitmen politik yang kuat, dan keterlibatan aktif masyarakat, Bojonegoro optimis dapat mewujudkan tata kelola Geopark yang sehat dan diakui secara global.


Tonton penjelasan selengkapnya melalui video di bawah ini: https://youtu.be/MxDJyRvj9qQ

Aksesibilitas
Geopark Bojonegoro
Pembaca Teks

Tampilan