Penemuan Situs Matar Ungkap Jejak Homo erectus Progresif di Tepi Bengawan Solo

  • Informasi Umum
  • 25-11-2025
  • 112 dilihat
BOJONEGORO – Lembah Sungai Bengawan Solo kembali menjadi sorotan arkeologi menyusul penemuan artefak penting di Situs Matar, Kabupaten Bojonegoro. Situs ini, yang berada di tepi timur Bengawan Solo, kini diakui memiliki keterkaitan erat dengan Situs Ngandong di Blora. Penemuan ini memperluas pemahaman mengenai evolusi dan persebaran kelompok Homo erectus progresif (manusia purba) di Jawa pada era Pleistosen.
Hubungan Matar dan Ngandong
Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa Matar dan Ngandong merupakan dua lokasi kunci di sepanjang lembah sungai purba yang menyimpan bukti kehidupan manusia purba antara 100.000 hingga 300.000 tahun yang lalu. Ngandong, yang sudah lama dikenal sebagai tempat ditemukannya fosil Homo soloensis, kini didukung oleh temuan di Matar.
Di Matar, para peneliti berhasil menemukan artefak litik (alat-alat batu) yang tertanam di teras sungai. Artefak ini menunjukkan kesamaan tipologi yang signifikan dengan temuan di Ngandong dan Sangiran. Kesamaan ini mengindikasikan bahwa komunitas manusia purba di wilayah Matar hidup dalam periode waktu yang sama dengan Homo erectus progresif.
Kontribusi Penelitian GJ Barstra
Konteks arkeologi Matar pertama kali diangkat pada tahun 1986 berkat upaya peneliti GJ Barstra, yang berupaya mencari penanggalan untuk fauna di Ngandong. Barstra melakukan penanggalan terhadap sampel tulang dari Matar, yang menghasilkan rentang usia geologis yang luas, yaitu antara 165.000 hingga 23.000 tahun lalu.
Menurut Barstra, rentang usia tertua yang ekstrem ini kemungkinan terjadi karena adanya fenomena erosi. Formasi batuan Pleistosen Tengah tergerus dan kemudian diendapkan kembali (redeposisi) ke teras Matar yang sebenarnya berumur Pleistosen Atas.
Potensi Penelitian dan Isu Bendungan
Selain artefak, penelitian geologi di Matar juga mengidentifikasi struktur batuan sedimen unik, seperti cross-bedding (lapisan silang-siur), yang mencerminkan perubahan arah aliran Bengawan Solo purba, serta batuan napal yang mengindikasikan area tersebut pernah menjadi percampuran antara lingkungan sungai dan laut.
Para ahli menyambut baik penemuan kembali Situs Matar, yang dinilai memiliki potensi besar untuk eksplorasi di masa depan, terutama karena situs ini belum pernah digali secara sistematis seperti Ngandong. Hal ini memberikan kesempatan untuk menerapkan metodologi penggalian yang lebih modern dan akurat.
Namun, potensi penelitian ini juga berhadapan dengan rencana pembangunan Bendungan Karang Nongko. Meskipun mayoritas pemukiman warga Desa Matar akan direlokasi karena terdampak genangan, tim peneliti menyatakan bahwa lokasi utama penemuan artefak dan fosil purba diyakini tidak akan terendam oleh air bendungan, sehingga penyelamatan data arkeologi masih dapat dilakukan.

Aksesibilitas
Geopark Bojonegoro
Pembaca Teks

Tampilan