Menyingkap Pesona Antiklin Kawangan: "Raksasa Tidur" Bojonegoro Menuju UNESCO Global Geopark

  • Informasi Umum
  • 31-01-2026
  • 16 dilihat

BOJONEGORO – Kabupaten Bojonegoro kini tengah bersiap memperkuat posisinya di peta geologi dunia. Potensi alam yang selama ini tersembunyi mulai mencuri perhatian internasional. Profesor Ibrahim Komoo, Wakil Presiden Global Geoparks Network (GGN) Association, bahkan menyebut kekayaan geologi Bojonegoro sebagai "Raksasa Tidur" yang memiliki nilai edukasi dan ekonomi luar biasa.

Fokus utama dari ambisi ini adalah pengusulan Bojonegoro menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark (UGP), dengan mengandalkan dua aset utama: Kelokan Sungai Bengawan Solo dan struktur megah bernama Antiklin Kawengan.

Apa Itu Antiklin Kawengan?

Bagi masyarakat awam, kawasan Wonocolo mungkin lebih dikenal dengan aktivitas tambang minyak tradisionalnya. Namun, dari kacamata sains, wilayah ini menyimpan struktur geologi langka yang disebut Antiklin Kawengan.

Secara teknis, antiklin adalah lipatan lapisan batuan yang melengkung ke atas, membentuk struktur menyerupai kubah atau atap rumah. Antiklin Kawengan bukanlah lipatan kecil; ia adalah struktur raksasa yang membentang sepanjang 20 hingga 30 kilometer.

"Struktur ini ibarat laboratorium alam. Jika kita bandingkan, besarnya bisa mencakup seluruh wilayah kota metropolitan dari ujung ke ujung," ungkap Profesor Ibrahim dalam kunjungannya.

Tulang Punggung Energi Nasional

Bukan tanpa alasan Bojonegoro disebut sebagai lumbung energi Indonesia. Struktur Antiklin Kawengan berfungsi sebagai "perangkap" alami bagi minyak dan gas bumi selama jutaan tahun.

Berkat formasi geologi yang unik ini, Bojonegoro mampu berkontribusi sebesar 30% terhadap produksi minyak nasional. Keberadaan reservoir alami di bawah tanah inilah yang memungkinkan industri migas modern maupun tambang tradisional di Wonocolo terus beroperasi hingga lebih dari satu abad.

Perpaduan Geologi dan Arkeologi

Menariknya, nilai penting Antiklin Kawengan tidak berhenti pada urusan minyak bumi saja. Penemuan berbagai artefak kuno di sekitar perbukitan—seperti alat pertukangan, pahat, hingga perhiasan—menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat aktivitas manusia sejak zaman kerajaan kuno di Jawa.

Hal ini memperkuat alasan mengapa Bojonegoro layak menyandang status Geopark Global karena adanya kaitan erat antara:

  • Geodiversity (keragaman geologi)

  • Biodiversity (keragaman hayati)

  • Cultural Diversity (keragaman budaya)

Menuju Pengakuan Dunia

Langkah Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark bukan sekadar mengejar status, melainkan upaya konservasi dan pengembangan pariwisata berkelanjutan (geotourism). Dengan pengakuan dunia, diharapkan "Raksasa Tidur" ini terbangun dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat lokal melalui sektor pariwisata dan edukasi.

Potensi Bojonegoro sangatlah nyata. Kini, tinggal bagaimana sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga warisan bumi ini agar tetap lestari hingga generasi mendatang.


Tonton video selengkapnya di sini: https://youtu.be/M6qlHNDzgek

Aksesibilitas
Geopark Bojonegoro
Pembaca Teks

Tampilan